Monday, June 25, 2007

18 tahun Fatwa Mati Salman Rushdie


Oleh: Saleh Lapadi

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.

Dengan nama-Nya Yang Maha Tinggi

Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rajiuun.

Saya beritahukan kepada kaum muslimin pemberani di seluruh dunia. Telah diterbitkan buku Ayat-ayat Setan yang menghina Islam, Nabi dan al-Quran. Penulis serta penerbit buku itu hukumannya adalah MATI!

Saya mengharap kepada seluruh kaum muslimin pemberani yang menemukan mereka di mana saja untuk membunuh mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menghina hal-hal yang disucikan oleh kaum muslimin.

Siapa saja yang mati dalam usaha membunuh mereka, terhitung sebagai syahid Insya Allah. Perlu diketahui, bila seseorang mengetahui keberadaan si penulis buku, namun ia sendiri tidak dapat membunuhnya, maka ia harus mengabarkan kepada orang lain sehingga mereka yang akan melakukan pembunuhan itu dan ia dapat merasakan akibat dari amal perbuatannya.


Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

25/11/1367 (14 Pebruari 1989)

Ruhullah al-Musawi al-Khomeini

Pendahuluan

Tanpa terasa, fatwa hukuman mati Salman Rushdi yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini telah berumur 18 tahun. Pada masa dikeluarkannya fatwa tersebut tidak ada yang membayangkan Imam Khomeini akan menyikapi buku Ayat-ayat Setan sekeras itu. Karena pada waktu itu, Iran baru saja menerima resolusi PBB nomor 598 yang berarti gencatan senjata dengan Irak. Dengan itu, Iran tentu disibukkan dengan usaha untuk melakukan perdamaian.

Semua lupa akan prinsip-prinsip berpikir Imam Khomeini. Pikirannya melewati batas-batas teritorial Iran dan orang-orang Iran. Imam Khomeini dalam segala urusannya hanya untuk Allah dan agama. Ia senantiasa berusaha untuk itu dan tidak pernah menunjukkan keletihan dalam masalah ini. Ketika Imam Khomeini mengetahui isi buku Ayat-ayat setan, ia langsung menciap kebatilan buku ini. Ada rencana di balik penerbitan buku itu. Itulah yang membuat beliau mengeluarkan fatwa bersejarahnya.

Lebih jauh tentang Salman Rushdi
Salman Rushdi lahir di kota Devanegari, Bombai India pada tanggal 19 Juni 1947. Setelah Pakistan berdiri sendiri, ia bersama keluarganya pindah ke Karachi dan setelah itu berimigrasi ke Inggris. Ia ke Inggris ketika berumur 13 tahun dan menyelesaikan sekolahnya di sana. Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah di universitas Cambridge, ia kembali ke Pakistan. Dengan menulis artikel selama di Inggris, ia dapat membayar sebagian biaya sekolahnya sendiri. Akhirnya ia pindah warga negara Inggris.

Tujuh tahun setelah menulis artikel ia akhirnya berhasil menulis novel berjudul Midnight’s Children tahun 1981. Dengan buku itu ia mendapat hadiah sastra Inggris Booker Prize. Buku ini isinya mengkritik perlawanan rakyat India untuk merdeka dari tangan Inggris. Sekitar setengah juta naskah terjual. Pada tahun 1983 ia menulis buku Shame tentang kondisi Pakistan. Buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey 1987 adalah hasil dari perjalanan 3 minggunya ke Nikaragua.

Gaya penulisannya adalah Realisme, namun dengan mengubah semua tokoh asli begitu juga tempat kejadian. Gaya penulisannya tidak mengikuti pakem yang ada selama ini. Dengan ini ia sesuka hati ia menulis apa saja dan menisbatkannya kepada siapa saja yang disukainya. Bukunya yang paling menyedot perhatian adalah The Satanic Verses yang dikenal dengan nama Ayat-ayat Setan. Buku ini ditulisnya pada tahun 1988.

Latar belakang penulisan buku Ayat-ayat Setan
Menganalisa cara berpikir Salman Rushdi dapat lacak dari keluarganya. Ibunya adalah seorang penari bernama Vanita. Pada masa remajanya ia disukai oleh seorang pemuda bernama Raju. Vanita beberapa kali lewat Salim Khan, gubernur Bombai, melakukan penghinaan terhadap masjid. Pernah ia meletakkan kepala babi di undak-undakan masjid kemudian lari menyembunyikan dirinya. Ia juga pernah membakar upacara orang-orang Hindu dan menyebarkan bahwa itu dilakukan oleh kaum muslimin. Setiap kali ia melakukan penghinaan, ia mendapat bayaran dari Salim Khan.

Rupanya Salim Khan juga tertarik dengan Vanita dan hendak mempersuntingnya. Sebagai jawabannya ia menjawab: “Aku menikah karena uang dan kalau engkau punya uang aku menjadi milikmu”. Setelah setuju, ia akhirnya menikah dan dibawa ke istana. Ia menghabiskan malamnya di istana Lord William dan sejak malam itu, ia tidak keluar-keluar dari istana.

Ketika Lord William dipanggil untuk kembali ke Inggris, ia berkata kepada Vanita: “Aku punya istri di Inggris dan ayahnya punya pengaruh kuat di sana. Aku tidak dapat membawamu ke sana”. Lord William pergi. Vanita kembali ke pelukan Raju yang masih menantinya. Setelah Vanita melahirkan anaknya ia meninggal. Raju membawa anak itu dan meninggalkannya di masjid. Seorang bernama Safdar menemukan bayi tersebut dan membawanya pulang ke rumahnya. Ia kemudian memberinya nama Salman. Ia besar di keluarga muslim.

Semenjak kecilnya ia terkenal nakal. Pada umur tiga belas tahun ia sudah tiga belas kali ditahan polisi. Pada masa itu, istri Lord William meninggal. Karena tidak punya anak dari istrinya, ia kemudian mengingat Vanita dan anaknya. Ia mengirim surat kepada Salim Khan untuk menemukan anaknya. Lewat Raju, Lord William menemukan Salman. Ketika tahu bahwa dia adalah anak dari seorang perwira inggris, ia sangat senang. Ia kembali ke rumah. Di rumah ia menemukan ibu angkatnya tengah menunaikan salat. Ketika sujud, ia menginjak kepala ibu angkatnya sehingga kepalanya terluka. Ia keluar dari rumah dan kemudian berangkat ke Inggris.

Ia kemudian di masukkan asrama melanjutkan sekolahnya di Inggris. Di sana ia berkenalan dengan Umar anak Mesir. Mereka kemudian menjalin percintaan dan sepakat untuk menikah. Mereka akhirnya membuka ajaran-ajaran agama yang memperbolehkan perkawinan sesama jenis. Mereka tidak menemukan ajaran yang memperbolehkan. Ketika Madame Rosa ibu asrama mengetahui gelagat ini, ia menyurati ayah Umar yang berpangkat jenderal. Ayahnya datang untuk membawa anaknya pulang ke Mesir. Umar yang begitu cinta kepada Salman akhirnya membakar dirinya. Setelah Umar meninggal, Salman sangat terpukul dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya terhadap agama-agama.

Ayat-ayat Setan
Salman Rushdi menulis banyak buku. Bila jeli melihat karangan-karangannya, kebanyakan isinya menghina agama dan keyakinan masyarakat setempat. Dalam bukunya Grimus (1975), secara terang-terangan ia menghina keyakinan orang-orang India. Buku Shame (1983) ditulisnya juga dengan isi yang sama.

Midnight’s Children (1981) ditulis mengkritik perjuangan rakyat India untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris. Bukunya The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey (1987) terkait dengan situasi politik di Nikaragua dan keyakinan masyarakatnya.

Puncak penghinaannya terhadap agama dengan menulis novelnya yang berjudul The Satanic Verses (1988). Ia menulis buku ini pada usia 47 tahun. Sebelum ia menulis buku ini, ia ikut hadir dalam sebuah pertemuan yang bermaksud untuk menghancurkan agama tidak lagi dengan senjata, tapi dengan tulisan. Tujuan itu terealisasikan dengan diterbitkannya buku ini.

Untuk pertama kalinya ketika dicetak dalam 547 halaman. Buku ini dicetak oleh penerbit Viking anggota jaringan penerbit Penguin. Salman Rushdi menulis buku ini karena pesanan pimpinan Viking, seorang Yahudi, dengan bayaran gila-gilaan 850 ribu pound.

Buku Ayat-ayat Setan bukanlah buku ilmiah, melainkan hanya sekedar fantasi penulis. Sekalipun demikian, penghinaannya terhadap keyakinan yang disucikan oleh kaum muslimin tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Untungnya, Imam Khomeini cepat tanggap rencana besar dibalik penerbitan buku ini. Beliau kemudian mengeluarkan fatwa hukuman mati yang bersejarah. Fatwa ini membuat skenario besar itu prematur. Umat Islam tersadar dan ini membuat Barat lebih berhati-hati. Inggris sebagai pembela nomor satu Salman Rushdi mencoba menekan Iran dengan ancaman ekonomi dan politik agar Imam Khomeini menarik kembali fatwanya. Tidak cukup itu saja, dengan menggerakkan 12 negara lainnya mereka kemudian memburukkan citra Iran dan Imam Khomeini.

Di balik tekanan dari negara-negara Barat, keteguhan Imam Khomeini membuat mereka lelah dan kemudian pasif menerima. Di sisi lain, ini seperti meniupkan semangat baru ke dalam dunia Islam. Penerbit buku Ayat-ayat Setan, Viking, langsung mengeluarkan pernyataan: “Penerbit dan penulis tidak punya maksud menyakiti kaum muslimin. Kami sangat menyesal dengan kejadian ini. Penerbitan buku Ayat-ayat Setan dilakukan karena ditulis oleh seorang penulis top dan isinya fiktif. Penerbitannya karena menghormati kebebasan berekspresi. Salah satu prinsip demokrasi”.

Salman Rushdi sendiri dalam wawancaranya dengan CBS mengatakan:

“Buku ini punya dua khayalan yang coba saya hubungkan dengan munculnya sebuah agama yang mirip dengan Islam. Tapi ini sebuah Islam khayalan. Tokoh yang berkhayal dalam buku itu, pada intinya akalnya telah hilang, gila. Bila seorang berkhayal semacam ini, sangat aneh bila tulisan ini dianggap menghina Islam. Sama sekali saya tidak berniat itu”.

Sempat muncul bisik-bisik di Iran, bahwa bila Salman Rushdi bertobat, mungkin saja tobatnya diterima. Namun, hal ini ditolak oleh kantor Imam Khomeini. Bahkan disebutkan seandainya Salman Rushdi kemudian menjadi orang paling zuhud di muka bumi pun, membunuhnya adalah wajib.

Hukuman mati telah dihapus?
Imam Khomeini pada tahun itu juga, 1987, berbicara di hadapan para rohaniwan:

“Masalah buku Ayat-ayat Setan adalah rencana yang telah disiapkan dengan baik untuk menghancurkan akar ajaran Islam dan keberagamaan umat Islam. Puncak dari semua itu adalah Islam dan rohaniwan”.

Ketika fatwa Imam Khomeini tidak lagi diulang-ulangi, Barat mulai berani mengeluarkan isu bahwa fatwa Imam telah ditarik kembali. Isu ini dimunculkan tidak hanya sekali, tetapi dimuat berulang-ulang. Ayatullah sayyid Ali Khamene’i bereaksi dengan keras.

Pada musim haji dua tahun lalu beliau mengeluarkan pernyataan:

“Hukuman mati yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini terhadap Salman Rushdi berlandaskan ayat-ayat al-Quran. Sebagaimana ayat-ayat lain yang kokoh dan tidak dapat dihapus, hukum ini tetap dan tidak dapat dihapus”.

Penutup
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.

Masihkah Barat tidak ingin mengambil pelajaran dari fatwa ulama Islam seperti Imam Khomeini? Bila ditanya, mengapa kalian melindungi dan membiarkan orang-orang menghina keyakinan orang lain? Jawabannya adalah kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang selalu dijajakan untuk menghina keyakinan orang lain. Pertanyaannya, adakah kebebasan yang memperbolehkan menghina keyakinan orang lain?.[]

Tuesday, May 22, 2007

Ya Abal Hasani Ya Musa Ibn Jaafar, Ayyuhal Kazhim



Photograph,1910,of the Kazimayn Mosque [ the two Kazims],then in a suburb, north of Baghdad.The shrine was built in the Shia Buyid dynasty period,and the curent mosque was built by the founder of the Persian Shia Safavid Dynasty, Shah Isma'il,in the 16th.century. The shrine contains the burial site of the 7th. and 9th. Imams of the twelver shias.Musa al-Kazim [ A.D. 745-799], the seventh Imam,was said to be poisioned by Harun al-Rashid,the Abbasid Caliph.The nineth Imam Muhammad al-Taqi[A.D. 810-833],became an Imam at age seven,and lived during the rein of the Abbasid Caliph al-Ma'mun,who was sympathetic to the Shia's and gave his daughter Umm al-Fadl to him in marriage.

Sunday, May 13, 2007

Emel Ayatullah Sistani


Yahh Kanda Recep bosan banget pagi liburan, lantas emel untuk Ayatullah Sistani. Kanda Recep marja'nya Ayatullah Sistani. Sedang aku ikut rahbar.
Ini soalannya, dan kami perolehi jawapannya, oh seru banget! Sepanjang pagi kanda Recep senyum aja!

Question : Can I use cracked CD software?
Answer : If someone else has cracked the software, you can use it but you are not allowed to copy or burn it.

Tuesday, May 01, 2007

Dialog Madzhab : Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syiah

Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur'an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci".

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,"Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah".

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya".

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 - Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:"Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai", dan sabdanya lagi:"Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti".

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur'an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja'fariyyah dan Zaidiyyah. Mereka diringkaskan sebagai ghulat.

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja'far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur'an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy'ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan 'berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali 'penentuan' itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah 'penentuan' kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur'an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur'an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:"Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam".(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja'fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja'far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya".

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:"Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)" (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:"Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam", (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:"Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu".

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:"Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air".

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:"Wuduk itu dua basuh dan dua sapu", iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya 'ala khayr al-'amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:"Sembahyang itu lebih baik dari tidur", maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud"dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud" (Sahih Muslim, Bab Mawdi' as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya' di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa "Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya' tanpa musafir dan tanpa sebab takut",(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam' as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:"Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita".

Kemudian melantik Ubay bin Ka'ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:"Ini adalah bidaah yang baik". Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan - sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga 'Undang-undang 99 Perak', dan 'bersalam' lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja'fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut'ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:"Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan" sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana 'menghadkan waktu' dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu'aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut'ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur'an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:"Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya".

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur'an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut'ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa' (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur'an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:"Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)".

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut'ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut'ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi'in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut'ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:"Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu".

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:"Ayat mengenai mut'ah telah diturunkan dalam al-Qur'an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:"Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta'ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat" (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut'ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma' binti Abu Bakar secara mut'ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut'ah)".

Imam Ja'far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:"Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut'ah, dan 'hayya ala khairil amal' dan ditanya Imam Ja'far as-Sadiq AS mengenai nikah mut'ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut'ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur'an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang 'ratusan ribu' itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur'an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith "sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit", maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)".

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur'an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja'far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti 'jemputan' kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur'an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan"Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid". Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:"Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah 'satu' (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji'ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa'at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai "Pintu Ilmu".

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:"Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya" (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa'I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja'far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz"Wahai anak Rasulullah" kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:"Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu'man" iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja'far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa"Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli 'ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

"Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya - yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu….."

Katanya lagi,"Sesungguhnya Madzhab Ja'fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya…."(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia dan Indonesia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

About Me

My photo
Graduan arkiteksur S1 UI. S2 Universitas Sains Malaysia. Pernah ikut suami ke Penang, Malaysia. Kini 'bekerja dengan famili.' Asal Utan Kayu, Jakarta, Indonesia