Monday, August 27, 2007

Imam Zaman!


There is no path other than fighting oppressors, establishing justice, and giving governance to Allah's vicegerent. Whatever misfortune and oppression is seen in the world today comes from oppressive governments. In this state, is there anything else to do other standing up to the oppressors, establishing justice, and giving governance to Allah's vicegerent 'who is a perfect human being'

Allah's vicegerent is the hope of humanity. If he did not exist the movement of the prophets would be incomplete 'hope would diminish and none of the divine values would remain.

Spreading mahdism is spreading all that is good, spreading mahdism is an invitation to the prophets' message 'the belief in the oneness of God and divine justice. The reason for this is that today mankind desires the oneness of God and Allah's vicegerent 'Mahdi (aj) 'who is the inheritor of the righteous and the inheritor of all that was good throughout history.

By Allah's grace, the groundwork for truth and the establishment of justice exists in the world and hearts are hopeful in this regard.

The conditions existent today in the world have made man tired of unrighteous governments. People must be invited to a righteous government lead by the most righteous man.

The message of mahdism is the invitation towards a savior. The invitation towards a savior gives man energy and hope and makes the majority of mankind sour to oppressive governments.

Oppressors do not want people to have hope or to think of a world filled with justice because liberalism and democracy is the end of the road in their viewpoint. We also say that the oppressors and the strong people of the world have reached the end of the road and that their time is up.

Now the time has come for the establishment of the righteous government and justice and mankind will be reborn with love, intellect, goodness, and thoughtfulness.

Wednesday, August 15, 2007

Fatwa MUI Hanya untuk Syi’ah Ghulat

Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.”

Itulah kritik Habib Muhammad Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), terhadap media-media massa, yang baginya, sering tidak adil dalam memberitakan aktivitas ormas yang dipimpinnya.

Padahal, bagi Habib Rizieq, demikian ulama vokal ini biasa disapa, FPI memiliki empat metode dalam menjalankan setiap aktivitasnya, yang jarang diungkap media-media massa.

Pertama, FPI harus mengedepankan kelembutan sementara tindakan tegas hanyalah solusi akhir.

Kedua, FPI hanya concern terhadap jenis “kemaksiatan” yang sudah disepakati, bukan yang masih diperselisihkan.

Ketiga, FPI hanya memerangi maksiat yang dilakukan secara terang-terangan dan terbuka.

Keempat, FPI membagi dua wilayah: amar makruf dan nahi mungkar. Amar makruf adalah wilayah kemasiatan yang “didukung” oleh masyarakat, misalnya, karena persoalan mata pencaharian. Di sini, tidak dilakukan tindakan tegas demi menghindari konflik horizontal dan mudarat yang lebih besar.

Wilayah seperti ini adalah harus didekati dengan memperbanyak dakwah, mengirim ustad, dan melakukan pencerahan tentang buruknya maksiat. Sedangkan wilayah nahi mungkar adalah ranah kemasiatan yang sudah tidak disukai oleh masyarakat. Hanya saja karena kemaksiatan itu didukung oleh pihak-pihak yang punya kekuatan, maka masyarakat menjadi takut dan diam.

“Inilah penegakan amar makruf dan nahi mungkar model FPI yang tak pernah diungkap media,” keluh Rizieq, yang pernah mendekam di Rutan Salemba selama tujuh bulan karena dianggap menyebarkan perasaan permusuhan dan kebencian terhadap pemerintah (154 KUHP) pada Agustus 2003.

Di rumahnya yang sederhana, di Gang Bethel kawasan Petamburan, ulama berusia 43 tahun, lulusan Ummul Quro, Saudi Arabia, itu menerima SYIAR untuk berbincang seputar Islam di Indonesia.

Bisa diceritakan mengapa Anda membentuk FPI?

FPI lahir karena tuntutan situasi dan kondisi ketika kemaksiatan dan kezaliman merajalela di mana-mana, sehingga harus ada barisan umat yang berani mengambil sikap tegas, jelas, dan nyata dalam berkonfrontasi melawan kemasiatan, kemungkaran, dan kezaliman. Visi dan misi FPI adalah amar makruf dan nahi mungkar menuju penerapan Islam secara kaffah.

Ulama menjelaskan bahwa hisbah (perkara-perkara yang tidak ada dalam narasi agama tetapi tidak boleh diabaikan—red) tidak berlaku hanya pada negara tetapi juga pada perorangan. Imam al-Mawardi dalam al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, manakala negara telah melaksanakan tugas hisbah -nya, maka individu tidak wajib lagi. Cuma yang jadi pertanyaan, bagaimana bila perangkat di negara ini tidak menegakkan hisbah? Maka, kewajiban itu tidak gugur dari pundak kita.

Di Indonesia, kewajiban hisbah ada pada pundak pemerintah, penegak hukum, polisi, jaksa, hakim, dan seterusnya. Manakala perangkat ini bekerja dan berfungsi secara optimal, maka organisasi semacam FPI tidak diperlukan lagi. Sebaliknya, bila semua perangkat itu tidak berfungsi, maka keberadaan FPI menjadi keharusan dan kebutuhan. Sebagai bagian dari masyarakat, FPI adalah perwujudan penolakan atas kemaksiatan dan kezaliman.

Apakah Anda punya model negara ideal yang menjalankan syariat Islam?

Sekarang ini telah bermunculan negara-negara Muslim yang menjalankan hukum Islam. Di samping punya kelebihan, mereka juga punya kekurangan. Contohnya adalah Iran. Setelah Shah Iran tumbang, Ayatulah Khomeini dan pengikutnya membentuk Republik Islam Iran. Terlepas dari perbedaan mazhab yang ada, kita juga jangan lupa bahwa model kepeimipinan Islam ini kan juga terlihat di Sudan meskipun sudah diacak-acak kekuatan asing. Kalau lemah, niscaya Iran pun akan diacak-acak. Sebagaimana kita tahu, sejak memproklamasikan diri sebagai Republik Islam, Iran langsung diserang Irak, dan terjadilah Perang Teluk. Iran dikerubuti berbagai macam negara dan tekanan Barat juga tidak berkurang. Artinya, tidak ada satu pun negara Islam di dunia ini yang akan luput dari tekanan. Di Aljazair, partai Islam sudah menang pemilu tapi dikhianati.

Di kalangan Syiah, Iran sudah menjadi contoh, meskipun ada perbedaan pendapat antara Khomeini dan Muhammad Jawad Mughniyah tentang konsep “wilayatul faqih” yang belum tuntas hingga saat ini. Polemik ini adalah salah satu wujud kekurangan Iran. Sedangkan dari segi sistem politik, Iran boleh dikatakan sudah menjadi percontohan. Kita berharap ke depan akan muncul negara-negara Islam lainnya yang bisa menjadi percontohan.

Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai Sunni Syafi’i, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran—red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.

Ke depan, sikap ini perlu dikembangkan. Sebetulnya banyak perbedaan Sunni-Syiah, baik dalam ushul maupun furu’. Tapi kita ingin menjawab dalam realita kehidupan sehari-hari, apakah betul tidak ada jalan untuk mendudukkan mereka bersama. Apakah betul tidak ada ruang dialog di antara mereka?

Saya lihat banyak sisi yang bisa didialogkan. Selama secara terang-terangan dan terbuka mencaci-maki Abu Bakar, Umar, dan Usman, berarti orang-orang Syiah telah menutup pintu dialog. Mustahil ada Sunni yang mau diajak dialog kalau mendengar dari mulut Syiah sesuatu yang jelek tentang mereka. Orang Syiah mesti memahami kejiwaan dan perasaan sensitif Sunni sehingga tidak mencaci-maki atau menghina, apalagi mengkafirkan mereka.

Begitu juga sebaliknya. Sunni tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua Syiah itu kafir dan sesat. Kalau diambil, pasti sikap seperti ini akan menyakiti hati orang-orang Syiah. Ini juga akan menutup pintu dialog.

Jadi, persatuan yang saya pahami bukan soal sependapat atau tidak sependapat. Persatuan adalah masalah hati. Bila hatinya baik, berjiwa besar, mau menerima perbedaan, mau berdialog, tidak mencaci-maki, dan tidak menghina, setiap orang pasti bisa bersatu. Tapi kalau hatinya sudah busuk dan rusak, orang tidak akan pernah bisa (bersatu—red). Perbedaan kecil sedikit pun bisa menimbulkan permusuhan.
Perbedaan sekecil apa pun, bila disikapi dengan jiwa kerdil, dada sempit, sikap egois, dan mau menang sendiri, pasti akan mendatangkan perpecahan dan malapetaka. Apalagi kalau perbedaannya besar, wah sudah pasti hancur lebur. Sebaliknya, perbedaan sebesar apa pun, kalau disikapi dengan jiwa besar, dada lapang, sikap tafâhum, dan saling hormat, insya Allah tidak akan menimbulkan perpecahan.
Sekali lagi, persatuan ini adalah masalah hati. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk sependapat. Mustahil. Sebab perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang akan selalu ada di setiap tempat dan zaman.

Bila Syiah mengkritik kepemimpinan Abu Bakar dengan cara ilmiah dan santun dan disertai dalil-dalil dan argumentasi yang baik, Sunni wajib menjawabnya. Kita pun mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan orang kafir yang bertanya tentang akidah kita. Seperti Ahmad Deedat terhadap pertanyaan-pertanyaan orang kafir. Begitu juga sebaliknya. Nah, kedua belah pihak (Sunni-Syiah—red) harus menjawab dengan santun.
Kalau Syiah, tanpa angin dan hujan, tiba-tiba mencaci Abu Bakar, itu sama saja ngajak perang. Kritik terhadap sahabat, yang bagi Ahlusunah adalah tabu tetapi biasa bagi Syiah, hendaknya disampaikan dengan adab, ilmiah, akhlaqul karimah, dan tidak emosional.

Membangun hal seperti ini tidaklah mudah tetapi ini bisa menyatukan hati dan langkah dalam kalimatullah. Itu yang lebih penting.

Pandangan Anda tentang Syiah di Indonesia?

Kalau yang saya lihat selama ini, hubungan saya baik dengan kawan-kawan Syiah di Indonesia. Apa yang saya sampaikan ke Anda sekarang ini juga sudah saya sampaikan kepada mereka. Contohnya kepada Ustad Hassan Daliel, saya katakan, “Bib (habib—red), kenapa kita bisa jalan bareng? Karena saya belum pernah mendengar Anda mencaci-maki sahabat. Nah, ini perlu dijaga. Yang saya dengar kritik antum juga sopan. Tapi kalau suatu saat saya mengkafirkan Anda dan Anda maki-maki sahabat, kita bisa musuhan.” Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustad Hassan Daliel, Othman Shihab, Agus Abubakar, Husein Shahab, Zein Alhadi, dan banyak lagi ustad-ustad Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu. Saya belum pernah mendengar ungkapan jelek dari mulut-mulut mereka. Yang saya tahu mereka adil, berilmu, berakal, dan beradab. Mudah-mudahan hubungan ini bisa dipertahankan. Bahkan bukan hanya itu, saya berharap orang-orang seperti mereka mampu tampil ke depan mendorong orang-orang Syiah yang di bawah atau junior-junior mereka agar tidak mencaci-maki sahabat nabi. Sebab, ada satu saja Syiah yang mencaci-maki sahabat, nanti orang-orang Sunni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Orang awam kan mudah menggeneralisasi.

Iran dikenal sebagai negara yang paling banyak membantu perjuangan Hamas dan rakyat Palestina yang notabene Sunni. Apakah kenyataan ini tidak bisa dijadikan momentum persatuan Sunni-Syiah?

Iya, betul itu. Itu hal yang saya sangat catat. Waktu saya ke Iran kemarin, Khaled Mishal (Ketua Depatemen Politik Hamas—red) baru saja pulang dari Iran, tempat yang sama dengan yang kita datangi.

Jadi, hubungan Hamas dan Hizbullah yang saling topang dan bantu seharusnya menjadi potret bagi persatuan umat. Mereka tetap pada pendapatnya masing-masing. Tapi pada saat mempunyai musuh bersama yang bernama Israel dan Amerika, kekafiran dan kezaliman, Hamas-Hizbullah bisa duduk dan jalan bersama. Kita juga bisa melihat hubungan erat antara Hasan Nasrullah (Sekjen Hizbullah—red) yang Syiah dengan Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin di Lebanon) yang Sunni. Bahkan Nasrullah ngomong secara terbuka bahwa Fathi Yakan-lah yang pantas menggantikan Siniora. Inilah potret positif yang luar biasa di zaman modern ini.

Di sisi lain, kita juga sedih bagaimana Syiah dan Sunni di Irak begitu gampang diadu domba. Ini jelas permainan pihak ketiga. Dia (pihak ketiga—red) meledakkan mesjid Syiah dan menuding Sunni, dan kemudian meledakkan mesjid Sunni dan menuding Syiah.

Saya berharap kita bisa mengembangkan potret Sunni-Syiah yang pertama. Potret yang kedua harus dihentikan segera. Sekarang di mana-mana semakin transparan adu dombanya, seperti di Irak dan Pakistan. Karena Syiah di Indonesia tidak besar, maka (adu domba itu—red) belum terasa. Tapi di beberapa tempat adu-domba ini jelas berhasil.

Syiah bukan barang baru di Indonesia. Menurut Sejarahwan, Syiah datang dari Gujarat dan Persia. Setidaknya budaya Persia cukup dikenal dalam tradisi keberagamaan di Indonesia. Apakah ini bisa jadi salah satu faktor pemersatu Sunni-Syiah?

Iya, itu bisa jadi faktor. Tapi, tetap faktor utamanya adalah masalah jiwa besar dan akhlak yang baik. Orang Syiah yang berilmu dan berakhlak tidak akan mungkin dari mulutnya keluar caci-maki kepada umat lain. Tidak ada. Saya kenal ulama-ulama Syiah yang berakhlak dan berilmu. Tidak ada keluar kata-kata kotor dari mulut mereka. Jadi, bila ada aktivis-aktivis Syiah yang mengeluarkan kata-kata kotor tentang sahabat, saya jadi heran, mereka itu ngikutin siapa?

Jadi, semua kembali ke hati, yang gambarannya bisa dilihat dari mulut. Bila mulutnya sudah penuh umpatan dan caci-maki, pasti hatinya sudah jelek. Kalau hatinya baik, dia bisa menghargai orang. Dia bisa mengetahui dan menahan ucapannya yang bisa menyinggung saudaranya. Bila ingin menyampaikan kebenaran, ia menyampaikannya dengan santun. Bahkan bila kita berhadapan dengan orang kafir, meski mungkin hatinya mencaci-maki Islam, yang menyampaikan kritiknya dengan sopan, kita mesti menjawabnya. Nabi dulu juga berdialog dengan orang musyrik, kafir, Nasrani, dan Yahudi. Itu contoh bagi kita.

Bagaimana dengan fatwa MUI yang menyesatkan Syiah?

Begini, kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat. Sebab orang Syiah pun merngakui bahwa di internal Syiah pun terdapat macam-macam golongan, dan di dalamnya ada pula yang sesat, yakni yang menuhankan Ali, meyakini Jibril salah menyampaikan risalah, dan al-Quran yang seharusnya lebih tebal daripada sekarang. Itu ada dan diakui oleh Syiah mainstream. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan fatwa MUI tadi adalah Syiah yang semacam itu.

Yang perlu disadari betul oleh Syiah adalah bahwa Ahlusunah punya sikap tegas soal sahabat. Bagi Sunni, siapa pun yang mencaci-maki dan apalagi mengkafirkan sahabat akan dikatakan sesat. Ini kunci.

Oleh karena itu, untuk mengambil jalan tengah, Syiah harus menahan diri dari mencaci-maki dan mengkafirkan sahabat. Ajaklah Sunni berdialog, seperti yang dilakukan kelompok Zaidiyah yang masih bagian dari Syiah. Kenapa Sunni dan Zaidiyah bisa akrab? Bahkan, kitab-kitab Zaidiyah, seperti Subulus Salâm dan Naylul Awthâr, dipakai di pondok-pondok (pesantren—red) Sunni.

Jadi, yang dikafirkan MUI tanpa ragu-ragu adalah Syiah yang mengkafirkan sahabat, yang meyakini al-Quran berubah, atau yang menganggap Ali lebih afdhal daripada Muhammad. Sekarang tinggal Syiah Indonesia introspeksi diri, apakah mereka masuk ke dalam ciri-ciri yang disesatkan MUI? Kalau tidak masuk dalam kelompok tersebut, tidak perlu gerah dengan fatwa itu. Saya sendiri lebih suka MUI membuka dialog. Hendaknya MUI mengundang tokoh-tokoh Syiah Indonesia untuk klarifikasi seperti apakah Syiah mereka itu.

Sekali lagi, saya berpendapat, kita tidak bisa mengeneralisasi Syiah. Sebab, Syiah itu macam-macam: ada yang moderat, konservatif, ekstrem, dan bahkan ada yang kafir. Bahkan, Muhammad Jawad Mughniyah (ulama Syiah Lebanon—red) dalam al-Fiqhu ‘ala al-Mazhâhib al-Khamsah mengatakan bahwa Syiah ghulat adalah kafir. Katanya, gara-gara ghulat, kami, Syiah Ja’fariyah, yang moderat jadi tertuduh. Waktu di Qum, saya melihat aparat menggerebek majelis Syiah Alawiyah, yang menuhankan Ali. Artinya, yang mengkafirkan Syiah ghulat bukan hanya MUI, bahkan ulama Syiah pun mengkafirkannya. Jadi kita perlu memahami konteks fatwa MUI tersebut.

Salah satu cara mendidik umat adalah menghidupkan tradisi keagamaan. Bagaimana sikap FPI?

Dari segi praktiknya, FPI tidak beda dengan NU dalam hal menjalankan tradisi Islam. FPI bukan kelompok nawasib (Sunni ekstrem—red). FPI adalah Sunni Syafi’i, meskipun tidak disyaratkan secara mutlak. Menghormati Nabi saw dan keluarganya sangat dijaga dalam FPI. Setiap anggota FPI wajib mencintai Ahlulbait, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, dan bahkan ulama sekarang. Di dalam FPI, tradisi cium tangan ulama masih berlaku. Bagi FPI, itu hanya sekadar penghormatan bukan pengkultusan, termasuk juga memperingati hari besar Islam, seperti tahun baru Hijrah, Maulid, dan Asyura yang sejarahnya diakui Sunni.

Di Indonesia, tradisi Maulid bisa (berlangsung—red) sampai 4 bulan. Di Iran, Maulid hanya diselenggarakan pada 12 hingga 16 Rabiul Awal. Tanggal 12 adalah versi Sunni sedangkan 16 versi Syiah. Berarti 1 minggu berturut-berturut (di Iran—red) diperingati Maulid sebagai bentuk penghormatan kepada Sunni-Syiah. Di Indonesia, (Maulid—red) bisa sepanjang tahun. Kadang-kadang bulan puasa pun baca Maulid. Di FPI, ratiban dibaca tiap kamis sore.

FPI juga punya munajat al-jabhah, artinya “munajat front”. Isi munajat itu adalah ratib haddad, ratib athos, wirid Syekh Abu Bakar bin Salim, dan wirid akidah Syekh Ali bin Abu Bakar as-Syakrar. Jadi, itu gabungan dari beberapa wirid yang pernah diamalkan para habaib terdahulu, seperti Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad, Habib Umar bin Abdurrahman Alathos, Syekh Abu Bakar bin Salim, dan lain-lain. Mereka ini mempunyai wirid dan munajat yang kita baca. Ada juga wirid dari Ahlulbait Nabi saw, seperti munajat Sayyidina Ali, Sayyidah Fathimah, dan Imam Ali Zainal Abidin, yang juga dibaca FPI, bukan hanya di Jakarta tetapi juga FPI di seluruh Indonesia.

Bagaimana relasi dengan kelompok Islam lain yang anti-tradisi?

Saya bergaul dengan berbagai macam kelompok. Dengan Ustad Abubakar Baasyir, saya sudah seperti keluarga. Saya anggap dia itu orang tua dan kawan. Meskipun orang tahu bahwa kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang tradisi. Beliau orang yang arif. Beliau tetap punya pendapat dan dalil tetapi tidak menyerang kita. Saya bisa duduk dan diskusi bersama. Ada urusan umat yang lebih besar daripada sekedar kebolehan dan keharaman tahlil. Ada prioritas.

Kadang-kadang kita juga bicara tentang persoalan furu’, tetapi sifatnya ringan saja. Misalnya, waktu sama-sama di Lapas Salemba, kita sempat bicara tentang qunut subuh. Saya qunut karena ikut mazhab Syafi’i. Beliau tidak pakai qunut. Suatu kali beliau bilang dapat dalil bahwa Ibnu Abbas juga pakai qunut. Artinya, beliau juga mengkaji tetapi pembicaraannya ringan dan tetap saling menghormati.

Kenapa bisa demikian? Karena kita bisa berjiwa besar dan berlapang dada. Kalau mereka tidak menyerang kita, kita juga tidak boleh menyerang mereka. Kalau sekedar kritik dengan ilmu dan adab, ya…boleh saja dan itu juga perlu dijawab dengan cara yang serupa.

Tidak bisa kita identikkan tegas dengan ekstrem sehingga membenci segala macam tradisi. Kalau Salafi mengkritik dengan baik-baik, kita juga akan menjawabnya dengan baik-baik. Tapi, kalau ada orang-orang yang mudah memusyrikkan dan mengkafirkan orang-orang yang tawasul dan tabaruk, maka sesungguhnya mereka tidak bisa membedakan antara kemungkaran yang disepakati, yang memang harus dilawan dengan tegas, dan bagian-bagian yang tidak disepakati perihal mungkar tidaknya. Ini adalah persoalan khilafiyah. Sikap terhadapnya berbeda.

Bagaimana Anda membina keluarga? Kondisi Anda sekarang ini tentu berefek juga secara psikologis kepada anak-istri?

Yang saya pahami, rumah tangga adalah miniatur dari penegakan dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar sebelum (ketiga konsep itu—red) diterapkan di luar rumah tangga.
Yang saya lihat, banyak orang yang salah mengartikan konsep dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar sehingga terjadi kesemrawutan definisi, pengertian, dan penerapan konsep ini. Padahal ketiga hal itu mempunyai metodenya sendiri-sendiri. Meskipun secara umum, setiap dakwah pasti mempunyai kandungan amar makruf dan nahi mungkar. Setiap amar makruf dan nahi mungkar pun pasti mengandung unsur dakwah. Ketiganya saling mengisi dan terkait.

Tetapi mengapa dalam ayat tersebut, Allah membedakan ketiganya? Berarti ada fokus penekanan yang berbeda satu sama lain.

Bentuk realistisnya ada dalam rumah tangga. Dalam hadis dikatakan, anak di bawah 7 tahun tidak boleh dipaksa salat, disuruh pun tidak usah. Cukup diajak dan diberi contoh saja. Nah, mengajak itu namanya dakwah. Kenapa cuma dakwah saja? Sebab, anak kecil belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu mana baik dan buruk. Sifat khas mengajak adalah kelembutan, tidak boleh secara keras dan malah harus merayu

Pada usia 7-10 tahun, anak sudah disuruh, bukan lagi diajak. Nabi saw mengatakan “suruh”. Ayo kita salat dan ambil wudu. Menyuruh lebih tegas daripada sekadar mengajak. Tidak ada rayuan lagi. Ini sudah masuk konsep amar makruf, seperti atasan yang menyuruh bawahan. Saat usia 10 tahun, Nabi saw menyuruh “dan pukul mereka saat berusia 10 tahun”. Begitu kita pukul untuk salat, itu sudah masuk tahap nahi mungkar.

Jadi, dakwah mesti lembut sementara amar makruf mesti keras.
Masyarakat awam yang masih belum ngerti Islam sama seperti anak yang belum berusia 7 tahun. Ini juga berlaku bagi mereka yang belum masuk Islam atau kafir. Bagi yang baru kenal Islam, anggap saja mereka baru berumur 7 tahun. Konsep amar makruf bisa diterapkan setelah mereka lama mengenal Islam tetapi bandel tidak mau melaksanakan syariat. Saat itu, kita bisa anggap mereka sebagai anak usia 10 tahun ke atas, mesti keras, dipukul, seandainya mereka coba-coba bikin maksiat.

Sikap saya dalam rumah tangga dan di luar rumah tidak jauh beda. Anak-anak saya sudah tidak kaget melihat saya perang dengan mafia. Anak-anak saya juga sudah tidak kaget bila menerima telepon bernada teror, mengancam, dan mencaci-maki. Sebab, mereka sudah kita doktrin. Mereka akan mengatakan, “wah itu musuh abah.” Yang penting kan bukan abahnya yang dibilang penjahat (tertawa). Karena itulah, anak-anak saya tidak pernah malu bila melihat saya di penjara. Mereka tetap percaya diri, tidak minder, dan malah bangga karena ayahnya di penjara demi membela agama.

Siapa guru yang paling berperan dalam membentuk karakter Anda seperti sekarang?

Dulu saya, Ustad Hassan Daliel dan Ustad Othman Shihab, sama-sama belajar di al-husaini bimbingan Almarhum Habib Muhsin bin Ahmad Alatas. Guru saya ini ahli fikih yang tegas. Dia akan katakan yang hitam ya hitam dan putih ya putih, yang halal ya halal, yang haram ya haram. Beliaulah yang paling banyak memberikan dorongan dan mewarnai pemikiran saya karena beliau pulalah yang mengenalkan saya sejak awal tentang apa itu Islam. Ini yang paling berkesan. Dia mengatakan yang hak itu hak, yang batil itu batil, walaupun seisi dunia akan mencerca kita. Itulah yang saya pegang sampai sekarang. Dan itulah pula yang saya terapkan dalam keluarga.

Tuesday, August 14, 2007

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bertentangan dengan Al-Qur’an

AI-Asy’ari sebagai pelopor mazhab al-Asya’irah kemudian dikenali dengan mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah, adalah seorang yang pernah hidup di abad ketiga Hijrah. Beliau dikatakan meninggal dalam tahun 330H?Ini bererti tiga abad seiepas kewafatan Nabi Sawa orang-orang Islam tid­ak berpegang kepada mazhab al-Asya’irah atau mazhab Ahlu s-Sunnah Wa I-Jama’ah.

Menurut al-Syahrastani (w. 548H), bermulanya mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah apabila ai-Asy’ari berkecimpung dengan golongan al-Sifatiyyah (menetapkan sifat-sifat azaliyyah bagi Allah S.W.T) dan menyokong pendapat-pendapat mereka dengan hujah-hujah Ilmu I-Kalam. Dan semen­jak itulah nama al-Sifatiyyah bertukar kepada al-Asy’a’iyyah. (al-MiIal Wa n-NiIial, Cairo, 1968, I, him. 93)

Al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilafal-Musalliyyin, Cai­ro, 1950, I, hIm. 320, apabila membicarakan tentang pendapat-pendapatnya alto akidah-akidahnya, dia menyebutkan “ini adalah sebahagian daripada pendapat (Qaul) Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah.” Sementara di dalam al-lbanah an Usul al-Diyanah, Cairo, 1385 H, him. 8, dia menyebutkan “ini adaIah pendapat (Qau[) Ahl al-Haq dan al-Sunnah.”

Di dalam kedua-dua kenyataan tersebut, dia tidak menyebut perkataan aI-Jama‘ah. Kemungkinan aI-Baghdadi (w.429H) adalah orang pertama di kalangan al-Asya’irah yang mengguna perkataan al-Jama’ah selepas per­kataan Ahlu s-Sunnah (Ai-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, Beirut, 1973, hIm. 304), kemudian diikuti oleh Al-Syahrastani (Al-Milal Wa n-Nihal, I, him. Ii). Al-Jama’ah yang hakiki, menurut Imam Ali A.S ialah bersama Ahli kebenaran sekalipun mereka itu sedikit. Al-Furqah (perpecahan) ialah mengikut AhI al-Batil sekaiipun mereka itu ramai (Qadhi Abd al-Jabbar, Fadhl al-I ‘tizal, Cairo, 1955, him. 185). Sementara al-Asy’ari al-Qummi (w.301H) berkata: al-Jama’ah iaiah golongan ramai, menyokong mana-mana pemerintahan tanpa mengira sama ada pemerintahan itu adil atau pun zalim. Mereka bersepakat (berjema’ah) bukan kerana keugamaan. Malah penger­tian al-Jama’ah yang sebenar bagi mereka adalah penpecahan (al-Furqah) kerana dendam mendendam berlaku sesama mereka terutamanya mengenai Tauhid, hukum-hukum, fatwa-fatwa dan lain-lain. Mereka bertengkar dan mengkafir sesama mereka (Kitab al-maqalat wa l-Firaq, Tehran, 1963, hlm.15)

Oleh itu tidak hairanlah jika al-Asy’ari sendiri bertelagah dengan Ahmad bin Hanbal mengenai perbincangan di dalam ‘ilmu l-Kalam, dia menulis buku al-Istihsan bagi menentang musuhnya Ahmad b. Hanbal, walaupun pada muIanya al-Asy’ari mengakuinya sebagai imam.Begitu juga pengikut ai-Hanbali mengkafirkan pengikut aI-Asy’ari kerana menyangka bahawa dia telah membohongi Rasul Sawa .Al-Asy’ari pula mengkafirkan Mu’tazilah dengan alasan mereka membohongi Rasul Sawa di dalam pengithbatan (Sifat) ilmu, qudrat dan lain-lain (ai-Ghazali, Fisal al-Tafriqah baina- I-Islam wa Zandaqah, Cairo, 1970, hIm. 126). A1-Asy’ari pula mengkafirkan Murji’ah (al-Maqalat, I, him. 202). Tindakan al-Asy’ari melahirkan perasaan tidak puas hati di kaiangan pengikut-pengikut Abu Hanifah. Lantaran itu mereka kemudian mengatakan Abu Hanifah seorang Murji’ah tetapi ianya adalah Murji’ah Ahlu s-Sunnah. Justeru itu tidak hairaniah jika al-Zamakhsyari (w.537H) memandang begitu negatif terhadap Ahlu s-Sunnah wa I-Jama’ah, malah dia menanamkan mereka al-Mujbirah (al-Kasysvaf, Cairo, 1 307H. I, him. 421). OIeh itu al-Jama’ah menurut pengertian yang kedua adalah simbol Perpaduan lahiriyah sesama mereka di bawah satu pemerintahan tanpa kaitan dengan keugamaan (Perpaduan Politik). Pada hakikatnya ia adalah perpecahan dan perselisihan dari segi hukum, fatwa dan lain-lain.

Walau bagaimanpun di sini dipenturunkan sebahagian daripada akidah al-Asy’ari dan ai-Asya’irah atau akidah-akidah Ahlu s-Sunnah wa l- Jama’ah yang bertentangan dengan al-Qur’an sepenti berikut:

1. Ja'fari:Allah tidak menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir.

Al-Asy'ari: Allah (swt) menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir dan mengunci hati mereka(al-Asy'ari, al-Ibanah, hlm. 10; al-Asy'ari, al-Maqalat, hlm. 321).

Lantaran itu pendapat ini adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Muddathir (74): 43-46, terjemahannya,"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab:"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan." Sekiranya Allah telah menghendaki mereka menjadi kafir - memasuki neraka, kenapa Dia pula bertanya,"Apakah yang memasukkan kamu ke neraka Saqar?" Dan orang-orang kafir pula akan menjawab: Kami memasuki neraka Saqar kerana kamu (Tuhan) telah menghendaki kami menjadi kafir? Dan Allah (swt) tidak bertanya di dalam firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2):28, terjemahannya,"Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku)?." Justeru itu jikalau apa yang dikatakan oleh al-Asy'ari itu betul, nescaya Tuhan tidak akan bertanya lagi kepada mereka kerana mereka telah dijadikan kafir oleh-Nya. Sedangkan Dia juga berfirman: Surah al-Zumar (39), terjemahannya,"Dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya."

2. Ja'fari: Allah (swt) tidak akan menyiksa seseorang hamba kerana perbuatanNya padanya dan tidak akan mencelainya.

Al-Asyar'irah: Allah (swt) akan menyiksa seorang hamba di atas perbuatanNya, malah Dia menjadikan padanya kekafiran, kemudian menyiksanya (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Oleh itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan firman Allah SWT dalam Surah al-An'am (6):164, terjemahannya,"Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Dan firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,"Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba-Nya."Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa Allah SWT tidak akan menyiksa seseorang kerana perbuatan orang lain.

3. Ja'fari: Taklif adalah mendahului perbuatan.

Al-Asya'irah: Taklif semasa melakukan perbuatan dan bukan sebelumnya (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Ini bererti seorang itu tidak menjadi penderhaka ('asi) kerana penderhakaan adalah menyalahi perintah. Dan jikalau penderhakaan tidak boleh berlaku melainkan semasa melakukan sesuatu, oleh itu masa penderhakaan ialah masa tidak melakukan sesuatu. Justeru itu ia (seseorang) tidak ditaklifkan (dibebankan) pada masa itu. Jika tidak, taklif mestilah mendahului perbuatan dan ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka. Walau bagaimanapun al-'Isyan (penderhakaan) telah berlaku menurut al-Qur'an, firmanNya dalam Surah Taha (20):93, terjemahannya,"Maka apakah kamu (sengaja) menderhakai perintahku?," firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):69, terjemahannya,"Dan aku tidak akan menderhaka (menentang)mu dalam sesuatu urusan," dan firman-Nya dalam Surah Yunus (10):91, terjemahannya,"Apakah sekarang (baru kamu percaya) pada hal sesungguhnya kamu telah derhaka sejak dahulu." Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa taklif adalah mendahului perbuatan. Justeru itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan nas.

4. Ja'fari: Allah tidak menjadikan kejahatan hamba-hamba-Nya tetapi mereka sendiri yang melakukannya.

Al-Asy'ari: Kejahatan hamba-hamba-Nya (Sayi'at al-'Ibad) dijadikan oleh Allah SWT, dan mereka tidak ada pilihan (al-Maqalat, I, hlm. 32; al-Ibanah, hlm. 10).

Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,"Barang siapa yang mengerjakan amal soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba(Nya)." Ayat tersebut menerangkan bahawa kejahatan tidak dijadikan oleh Tuhan malah manusia yang melakukannya di atas pilihan mereka sendiri. Justeru itu pendapat al-Asy'ari tersebut menyalahi nas.

5. Ja'fari: Qudrat (kuasa) mendahului perbuatan.

Al-Asy'ari dan al-Asya'irah: Qudrat tidak mendahului perbuatan malah ia bersama perbuatan (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Ini bererti taklif di luar kemampuan, kerana orang kafir dibebankan (ditaklifkan) di luar kemampuannya dengan keimanan. Dan sekiranya ia mampu beriman semasa kafirnya, ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka iaitu Qudrat bersama perbuatan, dan tidak mendahului perbuatan sebaliknya jika ia tidak mampu beriman, bererti taklif di luar kemampuan. Sedangkan Allah (swt) tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Justeru itu Qudrat semasa melakukan sesuatu adalah bertentangan dengan akal dan nas.

6. Ja'fari: Allah SWT melakukan sesuatu kerana tujuan tertentu (gharad) menurut hikmah dan kemuslihatan orang-orang yang ditaklifkan.

Al-Asya'irah: Tidak harus bagi Allah (swt) melakukan sesuatu kerana tujuan dan kemuslihatan tertentu, kembali kepada hamba-hamba-Nya (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Cairo, 1962, XVII, hlm. 11).

Ini memberi implikasi bahawa terdapat perbuatanNya yang sia-sia. Lantaran itu pendapat al-Asya'irah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Anbiya' (21):16, terjemahannya,"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main." Dan firmanNya dalam Surah Ali Imran (3):191,terjemahan,"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia." Oleh itu pendapat al-Asya'irah tersebut adalah menyalahi nas.

7. Ja'fari: Allah (swt) tidak membebankan (taklif) seseorang apa-apa yang ia tidak mampu, kerana membebankan seorang apa yang ia tidak mampu adalah terkeluar daripada Hikmah (kebijaksanaan) Allah (swt). Oleh itu adalah tidak harus bagiNya membebankan seorang yang lumpuh terbang ke udara, menghimpunkan dua perkara yang berlawanan supaya berhimpun, mengembalikan hari kelmarin, menurunkan bulan dan matahari dan lain-lain.

Al-Asya'irah: Allah (swt) membebankan seseorang apa yang ia tidak mampu (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Justeru itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Baqarah (2):286, terjemahannya,"Sesungguhnya Allah tidak membebankan seseorang melainkan apa yang ia mampu," dan iannya juga bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):49, terjemahannya,"Tuhan kamu tidak akan menzalimi seorang pun daripada kamu."Justeru itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan nas.

8. Ja'fari: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Dia membenci apa yang dibencikan oleh Allah (swt) dan ia tidak menyalahi-Nya di dalam masalah Iradah dan Karahah (kebencian).

Al-Asya'irah: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dibencikan oleh Allah (swt). Dan ia membenci apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Kerana Allah (swt) menghendaki kekafiran daripada orang kafir, kemaksiatan daripada orang yang melakukan maksiat, kejahatan daripada penjahat, kefasikan daripada orang yang fasik (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Sedangkan Nabi (Saw.) menghendaki ketaatan daripada mereka. Justeru itu al-Asya'irah adalah diantara apa yang dikehendaki oleh Allah (swt) dan apa yang dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu Allah (swt) membenci ketaatan daripada orang fasik, iman daripada orang kafir, tetapi Nabi (Saw.) sebaliknya menghendaki kedua-duanya.

Al-Asya'irah juga menyalahi di antara apa yang dibencikan oleh Allah (swt) dan apa yang dibencikan oleh Nabi SAWA. Lantaran itu mengikut al-Asya'irah, Allah (swt) tidak menghendaki taat daripada orang yang melakukan maksiat, sebagaimana dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu pendapat al-Asya'irah adalah menyalahi firman Allah (swt) dalam Surah al-Isra'(17):38, terjemahannya,"Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu," dan firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39):7, terjemahannya,"dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya."

9. Ja'fari: Imamah dan Khilafah adalah sebahagian daripada rukun Islam, dan ianya berlaku melalui nas.

Al-Asy'ari: Ianya bukanlah sebahagian daripada agama (al-Din). Dan ianya berlaku melalui al-ittifaq (persetujuan) atau al-ikhtiyar (pemilihan) (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 103). Oleh itu persoalannya siapakah yang lebih berhak Khalifah tidaklah penting. Tetapi apa yang lebih penting baginya ialah siapakah yang telah memegang jawatan khalifah dengan cara tersebut. Dan ianya tidak ada kaitan dengan nas. Justeru itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur'an yang tidak memisahkan (Imamah) politik dengan agama, firman-Nya dalam Surah al-Baqarah(2):124, terjemahannya,"Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia."Ibrahim berkata,"Saya memohon juga dari keturunanku."Allah berfirman:"JanjiKu ini tidak meliputi orang yang zalim." Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa'(4):59, terjemahannya,"Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu," kedua-dua ayat tersebut menunjukkan bahawa politik (Imamah) tidak terpisah daripada agama, kerana Dia mewajibkan ketaatan kepada Uli l-Amr sebagaimana Dia mewajibkannya kepada rasul-Nya ke atas umatnya. Justeru itu pendapat al-Asy'ari yang memisahkan politik (Imamah) dan agama adalah bertentangan dengan nas.

10. Ja'fari: Tidak mengakui kepimpinan orang yang tidak ada istiqamah dengan berpandukan al-Qur'an.

Al-Asy'ari: Mengakui kepimpinan mereka sekalipun tidak ada istiqamah (zalim) dan sekali-kali tidak boleh menentang mereka secara kekerasan, malah memadailah dengan berdoa untuk kebaikan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, I, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah Hud (11): 113, terjemahan,"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim maka kamu akan disentuh api neraka." Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4):59, terjemahannya,"Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu." Uli l-Amr yang wajib ditaati selepas rasul-Nya ialah orang yang ada istiqamah, bukannya pelaku kezaliman. Lantaran itu tidak hairanlah jika pendapat al-Asy'ari diterima oleh pemerintah dan dijadikan akidah negara sepanjang abad.

11. Ja'fari: Penentangan kepada segala bentuk kezaliman sekalipun melibatkan peperangan adalah berterusan dengan apa cara sekalipun kerana ianya tuntutan Allah dan Rasul-Nya.

Al-Asy'ari: Peperangan (penentangan) di dalam keadaan fitnah hendaklah dihentikan (Tark al-Qital Fi l-Fitnah), (al-Ibanah, hlm. 12). Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah al-Baqarah (2): 193, terjemahannya,"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi...."Dan firmanNya Surah al-Hujurat (49): 9, terjemahannya,"Perangilah golongannya yang melakukan kezaliman itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah." Justeru itu pendapat beliau itu adalah menyalahi nas.

12. Ja'fari: Tidak sah sembahyang di belakang Fajir (orang yang derhaka kepada Allah).

Al-Asy'ari: Sah sembahyang di belakang fajir. Beliau berpegang kepada perbuatan Abdullah bin Umar yang telah mengerjakan sembahyang di belakang al-Hajjaj(al-Maqalat, I, hlm. 324; al-Ibanah, hlm.12). Bagi al-Asy'ari al-Hajjaj adalah seorang fajir dan Abdullah bin Umar adalah seorang birr (yang baik). Walau bagaimanapun apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar tidak boleh dijadikan dalil atau bukti sahnya sembahyang di belakang fajir. Kerana ianya bertentangan dengan firman-Nya Surah al-Infitar (82): 14, terjemahannya,"Sesungguhnya Fujjar (orang-orang yang derhaka) benar-benar berada di dalam neraka," dan firman-Nya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya,"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim (fajr), maka kamu akan disentuh api neraka." Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah menyalahi nas.

13. Ja'fari: Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq berdasarkan nas. Oleh itu mereka mestilah dinilai dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an secara keseluruhan. Segala pujian atau celaan Tuhan kepada mereka adalah daripada Sifat fi'l (sementara), bukan daripada Sifat Dhat (kekal). Lantaran itu ianya tergantung di atas kelakuan mereka sama ada menyalahi nas atau pun tidak.

Al-Asy'ari: Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa'ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy'ari memberikan implikasi:

a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbezaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang menyalahi nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur'an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur'an yang mencela perbuatan mereka, kerana mereka menyalahi nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma'at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat daripada hukum Allah (swt) seperti hukum seorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, jatuh satu menurut al-Qur'an dalam Surah al-Baqarah (2): 229, terjemahannya,"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali." Tetapi apabila Khalifah Umar mengatakan ianya jatuh tiga (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137), al-Asya'irah menerimanya dan dijadikannya "hukum" yang sah sekalipun ianya menyalahi nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat daripada Sunnah Nabi (Saw.) seperti membuang perkataan Haiyy 'Ala Khairil l-'Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada masa Nabi ianya sebahagian daripada azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Khairun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh disentuhi oleh al-Qur'an, kerana mereka berkata: Semua sahabat adalah adil walaupun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).

f) Menilai kebenaran Islam menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang sebenar. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Lantaran itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya," dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil." Mereka juga berkata," Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat daripada iman umat ini." Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat daripada iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata," Nabi (Saw.) tidak segan silu kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman."

Persoalannya, kenapa Nabi (Saw.) tidask malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi (Saw.) tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi (Saw.) dan ianya menyalahi nas dan hakikat sebenar, kerana kebenaran adalah berada di lidah Nabi (Saw.) dan al-Qur'an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikannya "aqidah" sedangkan Sahabat sendiri bergaduh, caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun ianya bertentangan dengan nas, kerana "bersetuju" dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:"Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau menyokong semua Sahabat selain daripada Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah (Ibid, hlm.304). Lantaran itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan "persetujuan" dengan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA dengan berbagai cara sekalipun. Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenar sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:" Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun ianya telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu."

Mereka berkata lagi:"Kajian tersebut adalah merbahaya dan ianya merupakan barah kepada "aqidah" mereka, jangan dibiarkan ianya menular di dalam masyarakat." Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang menyalahi al-Qur'an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng atau 1001 malam. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka wal hal ianya bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman! Akhir sekali mereka menyuruh "pihak berkuasa" supaya mengambil tindakan, kerana khuatir mereka tidak begitu mampu lagi untuk mempertahankan "aqidah" mereka yang bertentangan dengan al-Qur'an.

Oleh itu pihak berkuasa terus menerima cadangan tersebut, dan diletakkan pengkaji tersebut di kandang orang salah. Sebenarnya mereka tidak mahu tunduk kepada kebenaran al-Qur'an dan keadaan sebenar "umat manusia." Mereka menganggapnya sebagai barah pada hakikatnya itulah penawar. Tetapi ianya tidak dapat diketahui dan dinilai oleh orang yang tidak mempunyai fikiran yang luas dan mendalam. Wahai Tuhanku! Di manakah keadilan di dunia ini!

14. Ja'fari: Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua perkara.

Al-Asy'ari: Berkecuali, tidak memihak kepada mana-mana sahabat sekiranya berlaku pertelingkahan atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, terjemahannya,"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah," dan ianya juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya," Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka." Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah menyalahi nas kerana tidak ada pengecualian di dalam menyokong kebenaran.

15. Ja'fari: Allah (swt) tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat kerana Dia bukan jism dan setiap yang bukan jism tidak dapat dilihat.

Al-Asy'ari: Allah SWT dapat dilihat di akhirat firmanNya dalam Surah al-Qiyamah (75): 22-23, terjemahannya," Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri kepada Tuhannyalah ia (Wajah-wajah) melihat." Al-Asy'ari mengatakan Allah dapat dilihat di akhirat seperti dilihatnya bulan penuh purnama (al-Ibanah, hlm. 10; al-Maqalat, I, hlm. 321).

Sebenarnya apa yang dipegang oleh al-Asy'ari itu adalah ayat Mutasyabihah. Oleh itu ianya hendaklah dirujuk kepada ayat Muhkamah iaitu firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 103, terjemahannya,"Dia tidak dapat dicapai penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." Dan juga ianya hendakklah dirujuk kepada firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 143, terjemahannya,"Dan tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa,"Ya Tuhanku, nampaklah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." Tuhan berfirman,"Kamu sekali-kali tidak dapat melihatku (Lan tara-ni), tetapi lihatlah ke bukit, maka jika ia tetapi di tempatnya nescaya kamu dapat melihatku." Tatkala Tuhannya nampak bagi bukit itu, maka bukit itu hancur lebur dan Musa pun jatuh pengsan."

Ayat tersebut menunjukkan:

a) Allah tidak dapat dilihat kerana Tuhan berfirman,"Sekal-kali (Lan tara-ni) kamu tidak akan melihatKu."

b) Allah mengaitkan "penglihatan" kepada perkara yang mustahil iaitu sekiranya bukit itu tetap. Tetapi terbukti ianya hancur lebur.

c) Permintaan Musa untuk melihat Tuhan adalah di atas desakan kaumnya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4): 153,"Ahli Kitab meminta kepadamu agar menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." Maka mereka disambar petir kerana kezaliman. Lantaran itu Allah tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat.

16. Ja'fari: Amalan baik (ta'at) seorang mukmin berhak diberi pahala jikalau tidak, ianya menjadi sia-sia dan kezaliman dikaitkan kepada Allah (swt) .

Al-Asy'ari: Amalan baik yang dilakukan oleh seorang mukmin belum tentu mendapat pahala daripada Allah (swt) .

Sebaliknya ia boleh dimasukkan ke neraka tanpa mengira kebaikannya. Dan Tuhan pula tidak boleh dikatakan zalim jika Dia berbuat demikian (al-Maqalat, I, hlm. 322; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 101). Ini bererti orang yang paling tinggi takwanya seperti Nabi (Saw.) belum pasti ianya ke syurga atau orang yang paling jahat seperti Fir'aun belum tentu dia dimasukkan ke neraka. Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firmanNya dalam Surah al-Qasas (28): 84, terjemahanya,"Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya." Dan firmanNya dalam Surah al-An'am (6): 160, terjemahannya,"Barang siapa membawa amal yang baik baginya (pahala) sepuluh kali ganda, dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka Dia tidak memberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya."

Oleh itu pendapat al-Asy'ari tidak memberangsangkan seseorang mukmin supaya melakukan amalan yang lebih baik kerana belum pasti, dia akan mendapat pahala. Sebaliknya ia merangsangkan orang fasiq untuk meningkatkan kefasikannya kerana belum pasti, dia akan dimasukkan ke neraka.

17. Ja'fari: Perbuatan manusia bukan al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah "ditetapkan" oleh Allah (swt) dan bukan al-Tafwid (diberi kebebasan mutlak) tetapi ianya di antara kedua-duanya.

Al-Asy'ari: Perbuatan manusia dijadikan oleh Allah (swt) (makhluqah) (al-Ibanah, hlm. 9; al-Maqalat, I, hlm. 321)

Al-Asy'ari berpegang kepada Surah al-Saffat (37): 96, terjemahannya,"Dan Allah telah menjadikan kamu dan apa yang kamu buat." Sebenarnya ayat tersebut adalah menunjukkan keingkaran Allah (swt) terhadap perbuatan penyembah-penyembah berhala kerana mereka mengukir berhala-berhala mereka dari batu dan kayu kemudian menyembahnya pula. Sedangkan kayu-kayu dan batu-batu tersebut adalah kejadian Allah (swt) .

Dan jikalaulah ianya sebagaimana yang dikatakan oleh al-Asy'ari ini bererti Tuhan tidak akan menyiksa hamba-hamba-Nya kerana perbuatanNya. Jika tidak, Dia tidak menepati janji-Nya dan Dia dikatakan zalim. Justeru itu ianya bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,"Tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan."Dan firmanNya dalam Surah al-An'am (6): 160, terjemahannya,"Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda amalannya dan barang siapa yang membawa amal yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya. Sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." Oleh itu jika seorang itu dipaksa (majbur) di dalam perbuatannya, nescaya ia mempunyai hujah yang kuat di hadapan Allah (swt) apabila Dia mahu menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya yang telah dikehendaki oleh Allah SWT, kerana dia tidak diberi pilihan untuk tidak melakukannya.

Kerumitan yang dihadapi oleh al-Asy'ari mengenai "perbuatan manusia adalah perbuatan Allah (swt)" agak ketara dan beliau cuba mencipta teori al-kasb atau al-iktisab (usaha), tetapi ia bukan sahaja tidak dapat menyelesaikan masalah, malah ianya bertentangan dengan formulanya sendiri; kekafiran dan kejahatan dikehendaki Allah. Beliau memberi definisi al-iktisab sebagai perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kuasa baru (qudrah muhdathah) selepas Allah SWT menjadikan perbuatan tersebut (al-Maqalat, hlm. 199; al-Asy'ari, al-Luma', Cairo, 1955, hlm. 97). Atau Allah menjadikan perbuatan dan seseorang itu (al-Abd) berusaha (muktasib) untuknya." (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Persoalannya bagaimana seorang itu dapat melakukan al-kasb atau al-iktisab (usaha) menurut pilihannya sedangkan usahanya (al-kasb) itu sendiri adalah penerusan daripada perbuatan Allah (swt) yang telah menetapkan kekafiran, kefasikan dan kejahatan hamba-hambaNya? Oleh itu, teori al-kasb atau al-iktisab yang diciptakan oleh al-Asy'ari kemudian diikuti pula oleh al-Asya'irah (al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, hlm. 328), nampaknya tidak dapat melepaskan mereka daripada fahaman Jabariyyah (al-Allamah, Ja'far Subhani, Ma'alim al-Tauhid, Tehran, 1980, hlm. 308) kerana mereka percaya bahawa tidak ada mu'aththir (pelaku) yang sebenar selain daripada Allah SWT.

Justeru itu perbuatan manusia bukanlah al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah ditetapkan Allah (swt) , dan bukan juga al-Tafwid (diberikan kebebasan mutlak), tetapi ianya di antara kedua-duanya. Lantaran itu Imam Ridha AS berkata:"Sesiapa yang menyangka bahawa Allah membuat perbuatan kita, kemudian Dia menyiksa kita kerana perbuatanNya, maka dia telah berkata (Fahaman) Jabariyyah dan sesiapa yang berkata bahawa Allah telah menyerahkan perbuatan dan rezeki kepada manusia, maka dia berkata dengan (Fahaman) al-Tafwid (Mu'tazilah) (Akhbar 'Uyun al-Ridha, Tehran, 1980, hlm. 325). Oleh itu manusia mestilah melakukan amalan yang baik untuk mendapat ganjaran sebagaimana dijanjikan oleh-Nya. Sebaliknya manusia mestilah mejauhkan amalan maksiat kerana dengannya ia disiksa. Imam Musa al-Kazim AS berkata:"Maksiat sama ada datang daripada Allah, justeru itu hamba tiada kaitan dengannya, dan Dia tidak akan menyiksa hambaNya. Atau ianya daripada hambaNya. Atau ianya bersyarikat dengan Allah (swt) . Oleh itu sekutu yang lebih kuat (Allah (swt) ) tidak akan menyiksa sekutu yang lebih lemah (manusia) dengan dosa yang mereka berdua lakukan bersama (Yusuf al-Najafi, al-Aqa'id al-Imamiah, Najaf, 1982, hlm. 64).

Di sini diperturunkan sebahagian daripada ayat-ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan aqidah-aqidah al-Asy'ari dan al-Asya'irah atau aqidah-aqidah Ahlul Sunnah Wa l-Jama'ah secara langsung seperti berikut:

Pertama: Ayat-ayat yang menunjukkan celaan kepada hamba-hamba-Nya kerana kekafiran dan kemaksiatan

1.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 20, terjemahannya,"Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaKu?)"Keingkaran dan celaan kepada orang yang lemah atau tidak mampu beriman kepada-Nya adalah mustahil.

2.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18); 55, terjemahannya,"Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika penunjuk telah datang kepada mereka." Bagaimana Dia mencela orang kafir jika mereka tidak mampu beriman.

3.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4): 39, terjemahannya,"Apakah kemudharatannya bagi mereka kalau mereka beriman kepada Allah."

4.Firman-Nya dalam Surah Sad (38): 75, terjemahannya,"Apakah yang menghalang kamu sujud."

5.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 92, terjemahannya,"Apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat."

6.Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?"

7.Firman-Nya dalam Surah al-Insyiqaq (84): 20, terjemahannya,"Mengapa mereka tidak mahu beriman." Firman-Nya dalam Surah al-Taubah (9): 43, terjemahannya,"Semoga Allah memaafkan kamu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang)."

8.Firman-Nya dalam Surah al-Tahrim (66); 1, terjemahannya,"Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu." Bagaimana harus Dia berkata: Mengapa kamu lakukan? Sedangkan dia tidak melakukannya.

9.Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,"Mengapa kamu mencampuradukan yang haq dengan yang batil."

10. Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,"Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah...?"

Lantaran itu tidak hairanlah jika al-Sahib bin 'Abbad (w. 995M), Perdana Menteri di bawah Muayyid al-Daulah berkata: Bagaimana Dia menyuruh seorang supaya beriman tetapi Dia tidak menghendakinya? Dia melarang kemungkaran dan Dia menghendakinya? Dia menyiksa orang yang melakukan kebatilan sedangkan Dia telah menetapkannya? Bagaimana Dia memalingkannya daripada keimanan? Sedangkan Dia berfirman dalam Surah Yunus (10): 32, terjemahannya,"Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Dia menjadikan pada mereka kekafiran kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Baqarah (2): 28, terjemahannya,"Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku?)." Dia mencampuradukkan kebatilan pada mereka, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,"Mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil?"

Dia telah menghalangi mereka dari jalan benar, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,"Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah?"

Dia telah mendindingkan mereka daripada keimanan kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Nisa'(4): 39, terjemahannya,"Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah?"

Dia menghilangkan kewarasan mereka, kemudian berfirman dalam Surah al-Takwir (81): 26, terjemahannya,"Maka kemanakah kamu akan pergi?"

Dia menyesatkan mereka daripada ugama sehingga mereka berpaling kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?"

Kedua: Ayat-ayat yang menunjukkan pilihan hamba-hamba pada perbuatan-perbuatan mereka dengan kehendak mereka sendiri

1.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 29, terjemahannya,"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41): 40, terjemahannya,"Perbuatan apa yang kamu kehendaki."

3.Firman-Nya dalam al-Taubah (9): 105, terjemahannya,"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu."

4.Firman-Nya dalam al-Muddathir (74): 37, terjemahannya,"Bagi siapa yang di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur."

5. Firman-Nya dalam Abasa (80): 12, terjemahannya,"Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya."

6.Firman-Nya dalam al-Muzzammil (73): 19, terjemahannya,"Maka barangsiapa yang menghendaki nescaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya."

7.Firman-Nya dalam Surah al-Naba' (78): 39, terjemahannya,"Maka barangsiapa yang menghendaki, nescaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya."

Dan sesungguhnya Allah SWT mengingkari orang yang menafikan kemahuan (al-masyi'ah) daripada diri mereka dan mengaitkannya kepada Allah Ta'ala:

8.Firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 148, terjemahannya,"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak mempersekutukannya."

9.Firman-Nya dalam dalam Surah al-Zukhruf (43): 20, terjemahannya,"Dan mereka berkata: Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyalah mereka (mala'ikat)."

Ketiga: Ayat-ayat yang menyuruh hamba-hamba yang melakukan amalan-amalan dan bersegera melakukannya

1.FirmanNya dalam dalam Surah Ali Imran (3): 133, terjemahannya,"Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Tuhanmu."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Ahqaf (48): 31, terjemahannya,"Sahutilah dan berimanlah kepadaNya."

3.Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 24, terjemahannya,"Sahutilah seruan Allah dan Rasul."

4.Firman-Nya dalam Surah al-Hajj (22): 77, terjemahannya,"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah kamu."

5.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 21, terjemahannya,"Sembahlah Tuhanmu."

6.Firman-Nya dalam Surah al-Isra' (17): 107, terjemahannya,"Berimanlah kamu kepada-Nya."

7.Firman-Nya dalam al-Zumar (39): 55, terjemahannya,"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu."

8.Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 54, terjemahannya,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu."

Bagaimana Dia menyuruh melakukan ketaatan dan bersegera kepadanya sedangkan orang yang disuruh itu ditegah, tidak mampu untuk melakukannya?

Keempat: Ayat-ayat yang memberangsangkan supaya memohon pertolongan denganNya

1.Firman-Nya dalam Surah al-Fatihah (1): 5, terjemahannya,"Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Nahl (16): 98, terjemahannya,"Mintalah kamu perlindungan kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk."

3.Firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 128, terjemahannya,"Mohonlah pertolongan kepada Allah."

Sekiranya Dia telah menjadikan kekufuran dan kemaksiatan sebagaimana didakwa oleh al-Asya'irah atau Ahlul Sunnah wa l-Jama'ah, bagaimana pertolongan dan perlindungan diminta daripadaNya?

Kelima: Ayat-ayat yang menunjukkan sandaran perbuatan kepada hamba

1.Firman-Nya dalam Surah Maryam (19): 37, terjemahannya,"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 79, terjemahannya,"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka."

3. Firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 148, terjemahannya,"Kami tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka."

4. Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 53, terjemahannya,"Yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkannya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."

5.Firman-Nya dalam Surah Yusuf (12): 18, terjemahannya,"Sebenarnya diri kamulah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)."

6.Firman-Nya dalam Surah al-Ma'idah (5): 30, terjemahannya,"Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah."

7.Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 21, terjemahannya,"Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

8.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4): 123, terjemahannya,"Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi pembalasan kejahatan itu."

9. Firman-Nya dalam Surah Ibrahim (14): 22, terjemahannya,"Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku."

10.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 7, terjemahannya,"Agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya."

11.Firman-Nya dalam Surah al-Jathiah (45); 21, terjemahannya,"Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh?"

12.Firman-Nya dalam Surah al-Sad (38): 28, terjemahannya,"Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerosakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat baik?"

13.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 31, terjemahannya,"Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka telah kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga)."

14.Firman-Nya dalam Surah Fussilat (41): 46, terjemahannya,"Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri."

15.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 82, terjemahannya,"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat beriman, beramal saleh kemudian tetap dijalan yang benar."

Bagaimana Dia menyuruh dan melarang tanpa orang melakukannya? Jikalaulah begitu keadaannya, maka ianya sepertilah menyuruh dan melarang al-Jamad (benda yang tidak bergerak)! Nabi SAWAW bersabda:"Niat seorang mukmin adalah lebih baik daripada amalannya (al-Muttaqi al-Hindi, Kunz al-Ummal, III, hlm. 242).

Keenam: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan para nabi ke atas amalan-amalan mereka:

1. Firman-Nya (Surah al-A’raf 7:23) terjemahannya:’Ya Tuhan kami,kami telah men ganaya dir kami sendiri’

2. Firman-Nya(Surahal-Anbiya’21:87) terjemahannya:’Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang- orang zalim’.

3.Firman-Nya (Surah al-Qasas 28:16) terjemahannya:’Ya Tuhan sesungguhnakutelah menganiaya diriku sendiri’.

4. Firman-Nya (Surah Yusuf 12:18) terjemahannya:’Sebenarnya

dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk)

itu”

5.Firman-Nya (Surah Yusuf 12:100) terjemahannya:’Setelah syaitan merosakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku’.

6.Firman-Nya (Surah Hud 11:47) terjemahannya: ‘Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dan memohon kepada Engkau seperti yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya’.

Ayat-ayat di atas menunjukkan pengakuan para nabi A.S.di atas per­buatan-perbuatan mereka dan merekalah yang melakukannya, tidak Se­bagaimana pendapat al-Asya’irah atau AhIu s-Sunnah Wa I-Jama’ah yang menyatakan Allah telah menjadi perbuatan-perbuatan mereka sehingga mereka tidak mempunyai pilihan. Pengakuan kesalahan tersebut adalah dari bab “Hasanat al-A brar Sayyi ‘at al-Mu qarrabin

Ketujuh: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan orang-orang kafir dan penderhaka di atas perbuatan mereka

1.Firman-Nya dalam Surah Saba' (34): 31-32, terjemahannya,"kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhan mereka...."Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 43- 46, terjemahannya,"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab:"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang."

3.Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 8-9, terjemahannya,"Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka:"Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab:"benar ada", sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kamu mendustakannya."

4.Firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 37, terjemahannya,"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperolehi bahagian mereka di dalam al-kitab."

5.Firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 39, terjemahannya,"Maka rasakanlah siksaan kerana perbuatan yang telah kamu lakukan."

Kelapan: Penyesalan orang-orang kafir di akhirat di atas kekufuran mereka dan menuntut supaya dikembalikan di dunia

1.Firman-Nya dalam Surah Fatir (35): 37, terjemahannya,"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Mukminun (23): 99, terjemahannya,"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang aku tinggalkan."

3.Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 12, terjemahannya,"Dan jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata):"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin."

4.Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 58, terjemahannya,"Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia) nescaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik."

Kesembilan: Ayat-ayat yang menunjukkan perbuatan Allah SWT tidak menyerupai perbuatan makhluk, tidak seimbang tanpa perselisihan dan kezaliman

1.Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 3, terjemahannya,"Kami sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 7, terjemahannya,"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Oleh itu kekufuran dan kezaliman bukanlah suatu yang baik.

3.Firman-Nya dalam Surah al-Hijr (15): 85, terjemahannya,"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara kedua-duanya, melainkan dengan benar." Oleh itu kekufuran bukanlah suatu kebenaran."

4.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4); 40, terjemahannya,"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah."

5.Firman-Nya dalam Surah Fussilat (4): 46, terjemahannya,"Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)."

6.Firman-Nya dalam Surah Hud (11): 101, terjemahannya,"Dan Kami tidak menganiaya mereka."

7.Firman-Nya dalam Surah al-Isra' (17): 7, terjemahannya,"Dan mereka tidak dianiaya sedikitpun."

Kesepuluh: Ayat-ayat yang memuji Mukmin kerana imannya dan mencela Kafir kerana kekafirannya

1.Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 16, terjemahannya,"Kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

2.Firman-Nya dalam Surah al-Mu'min (40): 17, terjemahannya,"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya."

3.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 37, terjemahannya,"dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji."

4.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 38, terjemahannya,"Bahawa seorang yang berdosa itu tidak akan memikul dosa orang lain."

5.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,"tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan."

6.Firman-Nya dalam Surah al-Rahman (27): 60, terjemahannya,"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."

7.Firman-Nya dalam Surah al-Naml (27): 90, terjemahannya,"Tiada lah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan."

8.Firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 160, terjemahannya,"Barangsiapa yang membawa amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda."

9.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 124, terjemahannya,"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanku."

10.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 86, terjemahannya,"Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia."

11.Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3):86, terjemahannya,"Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman."

Demikianlah dikemukankan ayat-ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan aqidah al-Asya'irah atau aqidah Ahlul Sunnah wa l-Jama'ah. Kesemua ayat-ayat di atas "adalah yang tidak datang kepadanya kebatilan baik depan mahupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji [Surah al-Fussilat (41): 42]

Justeru apakah keuzuran untuk tidak berpandukan kepada fahaman yang selaras dengan aqidah al-Qur'an? Kenapa mereka meninggalkan ayat-ayat tersebut wal hal ianya jelas dan nyata? Atau hanya bertaqlid kepada orang-orang yang terdahulu tanpa kajian dan renungan?

Firman Allah SWT dalam Surah al-A'raf (7): 28, terjemahannya,"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:"Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya, katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui."

Firman Allah SWT dalam Surah al-An'am (6): 70, terjemahannya,"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia."

Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 56, terjemahannya,"Supaya jangan ada orang yang mengatakan:"Amat besar penyesalanku atau kesalahanku terhadap Allah sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)."

Dan firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 91, terjemahannya,"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya."

Banyak lagi penyelewengan ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari segi akidah, Syari‘at Allah yang belum dikemukan.Justeru itu, jika mereka yang mengikut 100 peratus hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasulullh saw itu dikira sesat atau menyeleweng dan perlu dipuluh/dimurnikan akidah mereka, maka mereka yang mengikut sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya adalah lebih sesat atau menyeleweng lagi dan lebih perlu dipulih/dimurnikan akidah mereka oleh Imam Mahdi (a.s).

About Me

My Photo
Graduan arkiteksur S1 UI. S2 Universitas Sains Malaysia. Pernah ikut suami ke Penang, Malaysia. Kini 'bekerja dengan famili.' Asal Utan Kayu, Jakarta, Indonesia